Ini Dia 3 Tempat Wisata Bersejarah Di Kota Solo Yang Layak Anda Kunjungi

Kalau berbicara solo, saya pernah kursus di kota Solo pada tahun 2003 sampai 2004. Waktu itu, kota ini masih asri. Gedung-gedung bertingkat pun tidak begitu banyak.

Namun, selama satu dekade lebih tersebut, saya menyaksikan perubahan Kota Solo yang drastis. Kini, gedung-gedung pencakar langit, baik di pusat kota maupun di kota-kota satelit. Saya dapat dengan mudah menemukan bangunan-bangunan hotel ternama, rumah sakit, hingga pusat-pusat perbelanjaan.

Sepanjang pinggiran jalan Slamet Riyadi di jantung kota Solo, saya melihat jalur pedestrian ditata semakin lebar. Ini sangat berbeda sekali dengan empat-lima tahun lalu, di mana jalur pejalan kaki begitu tinggi, tidak begitu lebar dan banyak sekali pedagang kaki lima berjualan di sana. Terutama di dekat mall, tempat saya nongkrong dan makan siang di sana.

Sekarang, saya tidak menemui itu. Pedagang mungkin sudah ditertibkan dan dipindah ke lokasi lain

Intinya, kota “BERSERI” ini sekarang berkembang menjadi kota besar dan maju tapi tidak melupakan kenyamanan bagi setiap orang yang tinggal maupun berkunjung di sana. Dan, semoga ini tidak akan berubah.

Sebagai kota besar, Solo sesuai dengan slogannya “Solo The Spirit of Java” tetap menyimpan dan merawat beberapa peninggalan bersejarah. Tempat-tempat yang pas untuk memanjakan para pelancong yang sedang berwisata di sana.

Makanya, saya kali ini akan membahas tempat-tempat wisata bersejarah di kota Solo.

Keraton Kasunanan Surakarta


Ada Yogyakarta, ada Surakarta. Ya, dua-duanya merupakan dua kerajaan yang asalnya satu Mataram Islam. Namun, karena berbeda pandangan politik serta pengaruh pemerintah kolonial Belanda, kerajaan ini terpecah menjadi empat kerajaan.

Dua kerajaan paling besar yaitu Kesultanan Yogyakarta (yang kini berdiri sebagai sebuah provinsi) dan Kasunanan Surakarta. Keduanya, masih meninggalkan bangunan bersejarah yang masih berdiri hingga kini.

Keraton Kasunanan Surakarta, yang berdiri pada 1745, dapat dengan mudah diakses melalui jalan utama Slamet Riyadi ke arah timur. Mungkin Anda pernah atau sering sekali mendengar Pasar Klewer. Ya, Keraton Kasunanan Surakarta berada dekat di pasar yang merupakan salah satu pasar tekstil terbesar di Indonesia tersebut.

Kemudahan akses membuat Anda bisa menjangkaunya dengan mudah, baik dengan kendaraan pribadi hingga taksi atau ojek online.

Ketika Anda memasuki pelataran keraton, Anda akan menjumpai meriam besar bernama Kyai Rancawara. Saat Anda masuk ke museum keraton, berbagai benda-benda peninggalan kerajaan seperti seperangkat alat musik gamelan, replika pusaka keraton, hingga hadiah-hadiah dari raja-raja Eropa.

Selanjutnya, Anda dapat melihat-lihat ke area keraton lainnya seperti Kori Rentang, Kori Mangu, dan Kori Brojonolo. Anda dapat menikmati bangunan bernuansa Jawa tradisional dan antik.

Untuk bisa masuk berkeliling di dalam keraton, Anda cukup membayar Rp10.000,-. Jika ingin mengambil gambar keindahan bangunan Keraton Solo, Anda cukup menambah biaya sebesar Rp2.000 saja.

Anda dapat mengunjungi Keraton Solo setiap hari Senin-Kamis mulai jam 09.00-14.00 WIB. Sedangkan pada hari Sabtu-Minggu buka mulai Jam 09.00-15.00 WIB. Untuk hari Jum’at Keraton Kasunanan Surakarta akan ditutup untuk umum.

Pura Mangkunegaran


Di kota Solo, selain Keraton Kasunanan, ada juga Pura Mangkunegaran yang termasuk salah satu dari empat pecahan Mataram Islam yang berdiri sejak 1757. Letaknya tidak begitu jauh dari Keraton Kasunanan sehingga tidak boleh Anda lewatkan begitu saja.

Anda hanya diperbolehkan masuk kompleks istana melalui bangunan yang berada di sebelah kanan pintu gerbang. Ketika memasuki area pendopo, Anda akan menjumpai empat patung singa yang ada di sisi kiri dan kanan undakan yang menuju ke pendopo. Patung-patung tersebut merupakan buatan Berlin. Ini menandakan bahwa Istana Mangkunegaran sudah terbuka terhadap budaya luar, khususnya Eropa.

Anda harus melepas alas kaki sebelum memasuki pendopo dan memasukkannya ke dalam tas plastik.

Di dalam area pendopo, Anda akan menjumpai dua perangkat gamelan, Kyai Kanyut Mesem dan duplikatnya. Masing-masing perangkat gamelan tersebut masih dipakai hingga saat ini. Kyai Kanyut Mesem hanya dimainkan pada peristiwa-peristiwa khusus, misalnya hari penobatan Pangeran. Sedangkan perangkat gamelan duplikat digunakan untuk latihan.

Di area belakang pendopo, ada Pringgitan yaitu sebuah beranda terbuka yang biasa digunakan untuk menggelar pementasan wayang kulit.

Kemudian ada Dalem Ageng yang dulunya merupakan kamar pengantin. Namun, sekarang menjadi museum. Anda akan menemukan benda-benda peninggalan yang dipajang mulai dari benda-benda koleksi hingga pusaka kerajaan.

Ketika memasuki area istana lebih dalam, Anda menjumpai ruang makan dengan begitu banyak hiasan dan ornamen.

Jika Anda ingin membawa oleh-oleh pernak-pernik atau batik, Anda bisa ke ruang cenderamata untuk membelinya.

Satu lagi yang bakal menarik perhatian Anda, kereta kencana Pura Mangkunegaran yang setiap tanggal 1 Suro pihak istana selalu membersihkannya.

Pasar Gede


Satu lagi tempat wisata bersejarah di kota Solo, Pasar Gede. Pasar yang berdiri pada tahun 1930 ini memiliki nama asli Pasar Hardjonagoro. Namun, kini lebih populer dengan nama Pasar Gede.

Bukan hanya sisi sejarah pasar ini, yang dapat Anda jelajahi, namun Anda juga menikmati sajian kuliner terkenal seperti timlo, nasi liwet, es dawet telasih, lenjongan hingga berbagai macam jajanan pasar tradisional lainnya.

O ya, Pasar Gede sangat dekat dengan kompleks Keraton Kasunanan sehingga Anda bisa langsung meluncur setelah puas menikmati suasana keraton.

Sebenarnya, bukan hanya tiga tempat wisata bersejarah itu saja, masih ada banyak lagi tempat-tempat lainnya yang menarik lainnya. Namun, saya saat ini hanya bisa membagikan sebagian kecilnya saja.

Masih ada Pasar Klewer, Benteng Vastenburg, Museum Radya Pustaka hingga wisata kampung batik Laweyan dan kauman.

InsyaAllah saya akan membahasnya pada postingan selanjutnya.

Komentar

Artikel Lainnya

Contoh Teks Deskripsi Bahasa Jawa Tentang Candi Borobudur

Contoh Kalimat Aksara Jawa dan Artinya (Bag.1)

Sandhangan Panyigeg Wanda dalam Tulisan Aksara Jawa