Langsung ke konten utama

Mengenal Aksara Jawa Yuk!

Aksara Jawa merupakan salah satu aksara tradisional yang sering dipakai untuk menulis Bahasa Jawa. Dalam sejarahnya, tulisan Jawa merupakan perkembangan dari aksara Kawi (Jawa Kuno) yang berasal dari aksara Brahmi dari India.

Aksara-aksara tersebut banyak digunakan pada masa Hindu-Buddha dalam literatur keagamaan maupun terjemahan Bahasa Sansekerta. Selama periode tersebut, aksara Kawi mengalami mulai berubah bentuk secara berangsur-angsur namun ortografi masih tetap.

Baru pada abad 17, bentuk tulisan Jawa modern muncul dan dikenal sebagai Carakan atau Hanacaraka yang diambil dari lima huruf pertama. Aksara Jawa modern banyak digunakan oleh lingkungan kraton seperti Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Pada masa inilah, para penulis kraton menghasilkan atau menyadur berbagai naskah dari cerita-cerita (serat), catatan sejarah (babad), tembang kuno (kakawin), sampai ramalan (primbon).

Namun, hingga akhir abad 19, belum ada standarisasi penulisan dalam Bahasa Jawa. Pada awal 1926 diadakan sebuah lokakarya di Sriwedari Surakarta yang berhasil mengeluarkan Wewaton Sriwedari atau Ketetapan Sriwedari. Peristiwa tersebut menjadi dasar awal standarisasi dan ortografi aksara Jawa.

Setelah Republik Indonesia merdeka, muncul banyak panduan mengenai aturan dan ortografi baku aksara Jawa yang beredar pada masa itu. Salah satunya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengeluarkan Patokan Panoelise Temboeng Djawa pada tahun 1946.

Kongres Bahasa Jawa yang diadakan mulai dari 1991 hingga sekarang juga turut berperan dalam menerbitkan panduan serta menerapkan aksara Jawa di Unicode.

Sayangnya, sejak penulisan ortografi Bahasa Jawa menggunakan huruf Latin ditemukan pada tahun 1926, aksara Jawa semakin ditinggalkan. Walaupun masih ada beberapa majalah dan koran berbahasa Jawa yang masih memakainya, tapi semakin banyak orang-orang Jawa yang tidak memahami aksara Jawa.

Sekarang, aksara Jawa masuk dalam pelajaran Bahasa Jawa sebagai muatan lokal pada sekolah dasar dan sekolah menengah di provinsi yang berbahasa Jawa.

Penulisan
Penulisannya menggunakan sistem Abugida yaitu menulis dari kiri ke kanan. Satu aksara melambangkan satu suku kata. Untuk membaca tiap kata dalam tulisan aksara Jawa, Anda harus memahami teks bacaan.

Dan yang membuat Aksara Jawa berbeda dengan Abjad Latin adalah tidak adanya tanda baca dasar seperti titik dua, tanda kutip, tanda tanya, tanda seru, dan tanda hubung.

Aksara Jawa memiliki empat jenis sesuai berdasarkan fungsinya yaitu aksara dasar, aksara suara, tanda baca dan angka. Sedangkan dalam setiap suku kata terdiri dari dua bentuk, aksara telanjang (nglegena) dan aksara pasangan.

Aksara Jawa
Aksara Jawa hanacaraka carakan
Aksara di atas merupakan aksara dasar yang terdiri dari 20 huruf yaitu :
Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Pa Dha Ja Ya Nya
Ma Ga Ba Tha Nga

Catatan :
Huruf "A" dibaca "O" seperti pada kata "KOTOR".

Itu dulu, tulisan mengenai aksara Jawa. Nanti, InsyaAllah saya akan melanjutkan dengan aksara suara, tanda baca, dan angka Jawa pada postingan berikutnya.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Contoh Kalimat Aksara Jawa dan Artinya (Bag.1)

Pada postingan kali ini, saya ingin memberikan contoh kalimat aksara Jawa lengkap dengan artinya. Mungkin bagi Anda yang sudah pandai boleh untuk mengoreksi kesalahan dalam penulisannya. Maklum saya juga harus belajar dari nol lagi.
Semoga benar :)
Berikut ini adalah contoh sebuah kalimat beserta terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia.
Sawise ngeterake dagangan, Jåkå bali menyang ngomah kanggo siyap-siyap mangkat sekolah.(Sesudah mengantarkan dagangan, Joko pulang ke rumah untuk bersiap-siap berangkat sekolah).
Dan di bawah ini tulisan menggunakan aksara Jawa-nya :
Catatan--->Contoh kalimat di atas saya ambil dari Cerkak/Cerita Cekak (Cerita Pendek) di kolom Jagad Jawa Solopos.
Semoga bermanfaat.
Matur nuwun :).

Hari Ayah Indonesia

Baru saja online, mau cari informasi di Google kok ada gambar dua pasang sepatu di halaman pencarian. Sepasang sepatu pantofel berwarna cokelat dan sepasang lagi sepatu anak-anak berwarna merah. 
Penasaran, saya klik saja gambar tersebut. Ternyata, hari ini Hari Ayah Indonesia. Kok baru tahu ya...Selama ini saya hanya mengetahui Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember.
Dari informasi yang saya dapatkan dari Wikipedia, Hari Ayah Nasional merupakan hari untuk menghormati para ayah di seluruh Indonesia. Tepatnya, 12 November 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendeklarasikan Hari Ayah di Kota Solo.
Namun, di Indonesia peringatan tersebut masih terbilang baru. Sementara, di dunia internasional, Hari Ayah diperingati oleh lebih dari 75 negara pada setiap hari Minggu pekan ketiga bulan Juni. Dan sudah mulai dirayakan sejak awal abad 12 silam.
Mengingat jasa-jasa ayah, sebagai pemimpin rumah tangga, tulang punggung dan pelindung keluarga maka pantaslah jika kita merayakan Hari Ayah.
Selama…

Perbedaan Da dan Dha Pada Tulisan Jawa

Beda cara pengucapan, beda artinya. Ini juga berlaku pada tulisan Jawa. Salah satunya yaitu "Då" dengan "Dhå". Dua aksara ini serupa tapi tak sama..
Bagi orang non-Jawa, pengucapan huruf D sama semua (CMIIW). Tidak dibagi menjadi dua macam seperti itu. Inilah yang kadang membuat kita...orang Jawa sendiri, juga banyak melakukan kesalahan saat mengucapkan kata-kata Jawa yang ada "Då" dan "Dhå"-nya.
Penggunaan Bahasa Indonesia turut berpengaruh dalam terjadinya kesalahan tersebut. Kata yang seharusnya diucapkan seperti Da malah menjadi Dha.
Contoh :
Widodo =====> kata ini, dalam pengucapan Jawa seharusnya memakai "Då". Tapi, kenyataan dalam kehidupan sehari-hari kita orang Jawa kadang terbawa dalam pengucapan Bahasa Indonesia. Apalagi yang bukan orang Jawa (wajar lah ya hehehe).
Lalu apa perbedaan Då dengan Dhå?
Jawabannya, cara pengucapan.
Aksara "Då" biasa diucapkan secara tipis. Artinya, saat mengucapkan Då pastikan ujung li…